
Dalam kehidupan ini keadilan bukanlah sesuatu yang mesti sama, akan tetapi porsi keadilan bisa diukur dari cara pandang seseorang dalam menempatkan hak dan kewajibannya sebagai mahkluk social yang tercermin kedalam ikatan kemasyarakatan. Keadilan seringkali disalah artikan oleh sebagian orang, terutama apa bila berkaitan tentang pembagian hak dan kewajiban antara kaum Adam (laki-laki) dengan kaum Hawa (perempuan). Kaum perempuan selalu terpojok sebangai makluk yang lemah, kaku, dan kurang kreasi serta terkesan dengan kucuran air mata kepasrahan ketika adanya persoalan yang menimpa kehidupannya.
Ditengah kepasrahan yang dialami sebagian besar kaum Perempuan diawal kemerdekaan Bangsa ini, maka muncullah sosok perempuan yang mampu memberikan warnah baru bagi kaumnya. Namanya bukan hanya diagung-agungkan oleh kaum Perempuan akan tetapi juga para Lelaki, Raden Ajeng Kartini adalah Perempuan yang berani mengambil sikap ditengah kepasrahan kaum Perempuan dalam menentukan nasipnya sebangai kaum yang selalu diremehkan.
Kartini yang mulai bangkit semangat kesatrianya sebangai perempuan yang ingin mengangkat martabat Perempuan lainnya, ketika melihat penderitaan kaum Perempuan yang menjadi korban dari imprialisme kaum penjajah yang memperlakukan Perempuan sebangai barang pelampiasan kesenangan seta para kaum Ibu yang semakin hari semakin kesulitan melakukan aktifitasnya karenah kungkungan kaum penjajah dan para Anak-anak yang seharusnya bisa menikmati hari-harinya untuk bermain dengan wajah yang ceriah berubah menjadi pemurung penuh dengan rasa galisa dan rasa takut.
Sebagai seoramg Anak yang di lahirkan dalam keluarga bangsawan, hari-harinya terpasung dari dunia luar serta terkurung dari pergaulan Anak-anak sebayanya. Hari-harinya diisi dengan mengirim surat buat teman-temannya di negeri kincir Belanda, walaupun demikian harta dan gelar kebangsawan tidak membuatnya hidup tenang.
Ketika menginjak usia dewasa, Ia memutuskan untuk memperjuangkan hak-hak Perempuan tanpa menghilangkan kodratnya sebagai kaum Wanita. Karirnya semakin sukses ketika mendapatkan restu dan dukungan dari sang Suami guna memperjuangkan hak para Perempuan, kesuksesannya ditandai dengan berdirinya lembaga pendidikan yang di dirikannya.
Hal ini ditempuhnya sebab mengingat kodratnya sebagai seorang Perempuan sekaligus sebagai seorang Ibu yang berperan mendidik Anak-anaknya sebagai generasi penerus bangsa Indonesia. Walaupun sang Raden Ajeng Kartini cuma menghirup udara dunia selama 25 tahun tetapi bakti dan perjuangannya dalam mengangkat hak dan martabat bangsa ini melalui pendidikan, serta moral para perempuan, namun jasanya selalu disanjung serta diagungkan serta namanya tetap harum dari Sabang sampai Merauke.
Itulah secuil jasa dan baktinya bagi Bangsa dan Negara yang bisa Saya torehkan melalui tulisan, namun masih banyak baktinya yang saya tidak torehkan karnah keterbatasan pengetahuan yang Saya miliki. Hal ini disebabkan karena kurangnya reperensi mengenai perjuangan beliau. Walaupun demikian Kartini tentu mempunyai segudang harapan bagi kaum Perempuan di masa sekarang untuk melanjutkan perjuangannya.
Perjuangannya boleh dikatakan hanyalah awal dari perjuangan yang sesungguhnya, dan perjuangan yang sesungguhnya adalah ditangan para Kartini-kartini muda sebagai generasi penerus perjuangannya. Kartini pada awal kemerdekaan memperjuangkan persamaan antara kaum Lelaki dengan kaum Perempuan dalam hal mendapatkan pendidikan. Dimana pada saat itu pendidikan seolah-olah hanyalah milik kaum Lelaki serta para kaum Bangsawan, sementara kaum Perempuan hanya mengurusi dapur. Pada saat sekarang kesamaan mengenai hak mendapatkan pendidikan antara Perempuan dan Lelaki sudah belens dalam arti tidak ada lagi perbedaan hak, hal ini dibuktikan dengan kapasitas pendidikan yang telah banyak melahirkan para Wanita-wanita karir.
Maka menurut Saya perjuangan para Kartini-kartini muda saat ini adalah mengenai moralitasnya sebagai kaum Perempuan, yang harkat dan martabatnya kian hari semakin menunjukkan penurunan dan semakin dilecehkan dari segi moral. Namun Saya bukannya gak mendukung masalah persaman atau kesaman jender yang banyak disuarakan oleh para aktivis Perempuan, sebab menurut Saya pendidikan sudah cukup menunjang guna meniti karir dan banyak pula peluang untuk mencapainya tinggal kemauan serta kerja keras untuk mengisinya.
Untuk itulah Saya cuman membatasi pada segi moralitasnya saja, dengan dalil kemajuan suatu Bangsa dan Negara terletak ditangan kaum Perempuan yang dikodratkan sebagai seorang Ibu untuk mendidik Anak-anaknya menjadi generasi penerus di masa sekarang maupun di masa yang akan datang, sebab tak satupun pemimpin di dunia ini yang tidak terlahir dari rahim Perempuan. Sebaliknya ada pemimpin yang terlahir kedunia tanpa adanya campur tangan / benih dari seorang Lelaki, dialah Nabi Isa as.
Perjuangan para Kartini muda di zaman ini memang cukup menguras kesabaran dan kerja keras, mengapa demikian karena adanya get antara golongan mereka sendiri. Tentu masih segar dari ingatan kita semua mengenai kasus pornograpi dan pornoaksi yang menimpa para kaum Perempuan, apa yang kita jumpai dilapangan ialah kaum Perempuan berhadapan dengan kaum Perempuan yang lain, disatu sisi para aktivis Perempuan dari berbagai macam ormas dan lsm menyuarakan anti pornograpi dan pornoaksi dengan dalil yang jelas bahwa pornograpi dan pornoaksi dapat merusak generasi penerus Bangsa ini, serta menghimbau agar para Perempuan jangan mau diiming-imingi materi demi mengorbankan harga dirinya dengan mengumbar tubuhnya yang halus untuk dipertontonkan di media-media. Langkah ini ditempuh karena mereka sadar diri sebagai kaum Perempuan sekaligus sebagai kaum Ibu yang tentu saja tidak rela melihat Anak-anaknya teracuni oleh pornograpi dan pornoaksi.
Dilain waktu ada pula sebagian Perempuan yang mengaku sebangai aktivis kacangan, yang justuru mendukung pornograpi dan pornoaksi dengan memakai dalil setan laknatullah yang penuh dengan hawa napsu kemewahan, dan popularitas. Mereka menganggab bahwa hal tersebut merupakan kreatipitas, seni dan budaya yang lagi tren serta moderen. Dengan argumen bahwa dengan adanya pemilihan Putri sejagat maka kaum Perempuan di Indonesia dapat dilirik oleh Bangsa lain khususnya dunia tanpa mau menyadari kalau lirikan tersebut adalah mata setan yang penuh dengan gairah untuk siap memangsa martabat kaum Perempuan dan generasi muda Bangsa Indonesia. Inilah yang dilakukan oleh kalangan Artis dan yang paling mengiris hati para Perempuan adalah bahwa kenyatannya sekarang mereka justru berhadapan dengan kaum Perempuan lainnya.
Maka perjuangan Kartini muda saat ini adalah memperjuangkan moral dan martabatnya sebagai perempuan demi mengangkat citranya serta dihargai oleh kaum Lelaki, hal ini harus dipahami oleh kaum Perempuan Indonesia. Mudah-mudahan para kaum Perempuan dapat tersadar dari mimpi-mimpi popularitas yang merupakan pembodohan moral dan citranya sebagai kaum yang ingin dihargai dan diangkat martabatnya, mengapa saya katakan demikian karena secara tidak langsung popularitas yang kemudian menjadikan perempuan sebagai barang dagangan baik dimedia masa, media cetak, pemilihat putri sejagat, model, koper majalah dan iklan klub malam dan yang lebih para terlibat porsitusi.
Pertanyaannya sekarang ialah: Apakah tidak ada cara lain untuk mengagkat martabat Perempuan indonesia dimata kaum lelaki serta dimata dunia, sehingga lebih dihargai? Kalau jawabnya tidak maka secara tidak langsung mereka mempertegas bahwa Perempuan memang lemah, dan kurang kreatif sebab mereka cuman bisa mengandalkan bentuk pisik dan tubuhnya tanpa mengandalkan otak.
Bagaimana dengan perjuangan yang ditempuh oleh Raden Ajeng Kartini, bukankah Ia melakukan perjuangan dengan otak dan kata hati sebagai seorang perempuan, bukan dengan bentuk pisik dan tubuhnya. Tapi namanya tetap diagungkan bukan hanya mengangkat martabat kaum Perempuan dimata bangsa ini akan tetapi juga dimata dunia. Dan begitupun perjuangan yang dilakukan oleh Cut Nyakdin dari tanah Aceh serta jutaan perempuan dibelahan dunia yang menempuh karir kesuksesan melalui kecerdasan dari buah pikirannya.
Saatnyalah para kaum Perempuan sadar dan bangkit untuk memperjuangkan martabatnya melalui pendidikan yang jauh lebih mulia serta mendapat apresiasi dari kaum Lelaki yang berimlementasi pada penghargaan akan martabatnya sebagai kaum Perempuan, sebaliknya bukan dengan mengandalkan bentuk tubuh. Tanpa dipijipun Perempuan tetap mempunyai tubuh yang indah serta mempesonah bagi kaum Lelaki. Sehingga Perempuan dibaratkan bagai bunga wawar yang tanpa pujian dan pengakuanpun Ia tetap mekar dan tampak indah dimata orang. Sebaliknya pula ketika keindahan tubuhnya disalah gunakan maka akan mampu meruntuhkan tahta seorang pemimpin.
Dalam sejarah dunia ini banyak kita temui para pemimpin yang runtuh tahtanya karena seorang Perempuan, para pejabat negri ini banyak yang kehilangan karir dan jabatannya karena godaan seorang Perempuan, para Suami yang berpaling dari Istirinya karena para Perempuan penggoda, banyak pula kaum Perempuan atau para Ibu yang rusak rumah tangganya yang disebabkan oleh Perempuan yang merebut Suaminya, banyak pula para generasi muda yang rusak masa depannya atau putus sekolah karena seorang Perempuan dan jangankan manusia Malaikat bahkan bisa tergoda oleh Perempuan yaitu malaikat Harut dan Marut yang hanyut dan larut dalam rayuan manis seorang Perempuan, ketika mengemban amanat dari Allah sebagai Khalifah di muka bumi. Jadi alangkah nyata kerusakan dimuka bumi ini kalau perempuan menyalah gunakan kodratnya sebagai Perempuan. Pertanyaannya sekarang ialah apakah para perempuan tega melihat para generasi mudanya hancur disebapkan oleh prilaku yang tidak bermoral?
Walaupun demikian kitapun tidak bisa pungkiri kalau banyak juga para pemimpin yang terlahir dari didikan seorang ibu yang merupakan seorang perempuan yang tentunya dengan pengarahan melalui pentingnya menjaga harga diri guna meraih kesuksesan. Untuk itulah seorang perempuan selaku wanita yang berperan untuk mendidik anak-anaknya biar menjadi seorang pemimpin yang insan muttaqin (manusia yang bertaqwa).
Begitu mulianya peranan seorang wanita dalam mendidik anak-anaknya dalam rumah tangga, hal ini dibuktikan oleh Allah dalam Al-qur’an yang ditandai oleh hadirnya sebuah surah yang diberi nama Annisa (wanita atau perempuan). Coba para kaum perempuan merenungi posisinya dalam Al-qur’an. Apakah penempatan surah Annisa adalah suatu kebetulan? Mari kita simak sejenak tentang penempatan urutan surah dalam Al-qur’an.
Surah pertama adalah Al-fatihah (pembukaan) yang memuat tentang ketauhiedan, pahala dan siksa, kewajiban beribadah, dan pembagian manusia. Dilanjutkan surah al-baqarah (sapi betina) yang memuat tentang arah dan tujuan manusia agar menjadi manusia yang bermanfaat bagi dirinya, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Kemudian surah Ali Imran (keluarga imran) yang memuat tentang sebuah keluarga Imran yang soleh dan bertaqwa yang menitipkan anak-anaknya kepada para Nabi dan Rasul Allah. Dan diteruskan oleh surah Annisa (wanita atau perempuan) yang memuat tentang peran perempuan atau wanita dalam keluarga yang dominan untuk mendidik anaknya, seperti yang diingini ketiga surah sebelumnya, yaitu agar Anak-anaknya mengesakan Allah, menjalankan perintah Allah ( kewajiban beribadah) dan menjauhi larangannya ( siksa), menentukan pilihan untuk menjadi manusia yang bermanfaat, serta dapat membina keluarganya. Barulah kemudian dilanjutkan dengan surah Al-Maaidah (hidangan), Al-An’aam (tempat tinggal), Al-Anfaal (harta rampasan perang) yang kesemuanya adalah tanggung jawab seorang suami atau laki-laki.
Sebagai seorang Perempuan sekaligus Ibu rumah tangga harus aktif membina Anak-anaknya dengan baik, maka Al-qur’an memberikan bimbingan bahwa rumah tangga dan keluarga harus dibangun melalui Perkawinan yang sah dan benar atau dengan dasar cinta dan kasih sayang. Namun seperti yang Saya katakan diawal bahwa didalam Al-qur’an juga terdapat peringagatan bagi kaum Perempuan ketika menyalah gunakan kodradnya, sehingga akan merusak moralitasnya, martabat dan citranya.
Ada sebuah kata yang terlontar dari mulut salah satu artis ketika poto-potonya yang tidak bermoral dan bermartabat tersebar luas di masyarakat, kata-katanya sangat dilematis sekali layaknya kebanyakan para artis perempuan lainnya, dengan bercucuran air mata memohon agar para penegak hukum Negeri ini menindak tegas para pelaku yang telah menyebarkan potonya tersebut, hal ini disebapkan karena dia mempunyai seorang Anak Laki-laki yang belum tau apa-apa sehingga ditakutkan nantinya sang Anak mengalami beban mental karnah melihat Ibunya berpose yang tidak senonoh.
Mengapa Saya katakan dilematis sebab sang Artis tau bahwa perbuatannya tersebut dapat membahayakan masa depan Anaknya, tapi disisi lain ratusan bahkan jutaan para Ibu diluar sana yang dibuat gelisa oleh perbuatan sang Artis tersebut, siapa sang Artis dan siapa pula sang Ibu yang dibuat gelisa? Jawabnya adalah sang Artis dan sang Ibu, kedua-duanya adalah perempuan yang tidak tega melihat Anak-anaknya apa bila dapat mengkonsumsi poto-poto sang Artis.
Sehingga tidak mengherankan ketika kita temukan diberbagai tempat para Muda-mudi yang dengan santainya bermesra-mesraan tanpa ikatan yang jelas, berboncengan kesana-kemari sehingga sulit membedakan apakah motor tersebut ditunggangi oleh satu Orang atau dua Orang sebab mereka sudah begitu menyatu dalam pelukan. Tentu hal ini disebapkan karena pikiran mereka telah teracuni oleh berbangai tayangan yang tidak mendidik. Ketika hal ini terus berlanjut, siapakah pihak yang akan dirugikan? Tidak lain dan tidak bukan adalah kaum Perempuan.
Sayapun jadi teringat ketika mendapatkan kesempatan mengunjugi salah satu tempat lokalisasi di Samarinda tepatnya di Solong, sebuah tempat yang kelihatan sederhana dari luar akan tetapi ketika sudah menginjakkan kaki melewati pintu gerbang. Maka dentungan musik saling menyaut dari wisma satu ke wisma yang lain, dibawah lampu-lampu yang berkedip-kedip terpajang para Perempuan penghibur yang menunggu para pelanggan yang datang. Hal yang menarik yang Saya temukan disana sekaligus menyayat hati ketika saya berjalan menyelusuri jalan-jalan di lokalisasi tersebut saya menjumpai seorang anak laki-laki yang kira-kira masik SD yang sedang belajar ditengah hiruk-pikuk dunia malam, dalam hati Saya berkata kok masik ada kehidupan seperti ini ditengagah-tengah tempat hiburan malam.
Saya pun kemudian terus melangkahkan kaki menyelusuri jalan, tiba-tiba Saya dihampiri tiga Perempuan yang menarik baju Saya sampai rebek yang mengajak kewismanya, namun Saya gak mengupris ajakannya tersebut sebab niat Saya ketempat lokalisasi bukan untuk mengumbar hawa nafsu birahi, kemudia Saya mendatangi seorang perempuan yang sedang duduk di teras wisma cendera wasi.
Dengan perasaan sungkan Saya pun mencoba memberanikan diri untuk mendekati sang Perempuan dan obrolanpun terjadi antara kami berdua, Saya pun mengajukan pertanyaan yang polos kepada Perempuan tersebut. Apa yang membuat Anda sehingga mau melakukan pekerjaan sebagai Wanita penghibur? Dengan tanpa ragu Ia menjawab pertanyaan, karnah desakan ekonomi Mas, kemudian dia berkomentar kalau pekerjaan ini dilakukannya sebagai alternatif terakhir demi membesarkan Anak-anaknya Ia mengaku mempunyai dua orang Anak. Anak pertama sudah masuk SD, sedangkan yang kedua masih TK dan kedua Anaknya di titipkan pada kedua Orang tua di kampung.
Saya kemudian bertanya lagi, apa pekerjaan Suami Anda? Perempuan tersebut terdiam sejenak sambil menghisap sebatang rokok ditangannya kemudian menyemburkan asapnya dari dalam mulutnya dengan kesan yang menurut Saya seperti kesal dengan pertanyaan yang diajukan kepadanya. Gak tau Mas kerja apa Dia sekarang, yah gitulah kebanyakan Laki-laki gak mau bertanggung jawab sama keluarganya, dulu sih ketika kondisi ekonomi keluarga kami semakin terjepit sang Suami meminta ijin merantau ke batam untuk mencari nafkah buat keluarganya. Tapi tidak pernah mengirim duit malah menikah lagi dengan Perempuan lain, terpaksa Saya yang mencari duit, Perempuan manasih yang mau melakukan pekerjaan yang hina ini, tapi gimanah lagi pendidikan dan keterampilan yang Saya miliki tidak cukup untuk mendapatkan pekerjaan yang layak.
Dari obrolan tersebut Saya dapat mengambil kesimpulan bahwa Perempuan tersebut merupakankorban dari Laki-laki yang tidak bertanggung jawab. Terlepas dari apakah Perempuan tersebut sebangai korban, namun pekerjaan tersebut tetaplah merupakan kerusakan moral bagi kaum Perempuan, inilah yang menurut Saya salah satu tanggung jawab yang harus dituntaskan oleh para Kartini saat ini guna melanjutkan perjuangan Kartini saat dulu yang sudah membekali mereka dengan kesetaraan dalam mendapatkan pendidikan yang tentu saja mengandung harapaan bahwa dengan adanya pendidikan diharapkan para Perempuan dapat melahirkan kereatipitas berupa keterampilan sebagai modal mereka kelak.
Saatnyalah para Kartini muda untuk bangkit memberikan dorongan moral dan moril, dengan memberikan keterampilan dan mengusahakan lapangan kerja buat para Perempuan yang telah mengambil jalan pintas demi meraih materi. Yang tentusaja ditopang oleh pendidikan, ribuan bahkan jutaan saudara mereka sesamah Perempuan yang terkurung dalam lembah kenistaan dalam penjara lokalisasi di Negeri ini.
Mereka bukannya tidak mau keluar dari penderitaannya sebangai Wanita penghibur yang tidak bermoral, akan tetapi mereka adalah para Perempuan yang kebingungan mencari penghidupan yang halal. Dan tidak ada lagi kabar dari para pahlawan devisa Negara yaitu para TKW Indonesia yang harus merantau jauh meninggalkan keluarga dan kampung halamannya demi mencari sesuap nasi di Negeri Orang sebagai pembantu rumah tangga yang sering disiksa oleh para majikannya serta (maaf) diperkosa.
Saatnyalah para Kartini muda untuk meningkatkan mutuh pendidikannya sebagai modal untuk mendidik Anak-anaknya, sehingga tidak ada lagi seorang Ibu dikemudian hari yang memberikan keleluasan pada Anak Perempuannya ketika mereka merenggek. Bu’ / Ma’ saya punya teman Laki-laki Dia Anaknya baik kok terus mengajak Saya jalan / pacaran, boleh gak Bu’ / Ma’? Apa jawaban sang Ibu? Boleh asal kamu bisa jaga diri. Allaaa Ma’ mengapa engkau berkata demikian terhadap Anak perempuanmu, yang dilarang aja masih bisa curi-curi waktu dan kesempatan, apa lagi yang memeng engkau beri lampu kuning.
Aduuuh Ma’ tidakkah engkau membuka mata atau sengaja menutup mata melihat realitas bahwa betapa banyak di luar sana para Anak Perempuan yang hamil di luar nikah, betapa banyaknya Bayi yang di lahirkan dari rahim Perempuan yang tidak jelas siapa bapak dari Anak tersebut, betapa banyak para Perempuan yang hilang keperawanannya serta kehilangan masa depannya oleh pergaulan bebas tanpa batas dengan seorang Laki-laki yang tidak bertanggung jawab, dan betapa banyak diluar sana kita temukan kasus Bayi yang tanpa dosa yang dibuang di tempat sampah, diaborsi / digugurkan tanpa mengetahui siapa kedua Orang tuanya.
Wahai Anak Perempuan, apakah itu Laki-laki yang kamu anggab baik seperti yang engkau katakan kepada Ibumu sehingga Ia memberimu ijin? Wahai Ibu apakah dengan kehamilan diluar nikah, pergaulan bebas dan membuang seorang Bayi, masih engkau anggab sebagai sikap yang dapat menjaga diri? Tidakkah engkau ingat bahwa tanggung jawabmu sebagai orangtua yang berperan lebih dominan dalam keluarga guna mendidik Anak-anakmu agar menjadi Manusia yang bertaqwa? Lalu apa yang engkau ucapkan nanti ketika dimintai pertanggung jawaban oleh Allah di akhirat kelak?
Wahai sang Anak mengapa engkau tega menyeret Ibumu kedalam api neraka yang telah susah paya melahirkanmu, membesarkanmu, dan mendidikmu. Hanya karena engkau tidak ingin dikatakan Perempuan yang tidak laku, kuper, kolot dan gak gaul. Sehingga engkau melakukan perbuatan yang tidak bermoral, pergaulan bebas, dan mengorbankan harga diri serta martabatmu sebagai perempuan?
Namun terkadang ketika melihat pergaulan semacam ini yang kian hari semakin tumbuh subur dan semakin menjalar dikalangan muda-mudi semisal kasus pacaran, yang telah jelas-jelas merusak moralitas generasi. Tentu yang diharapkan adalah para tokoh serta pemuka Agama yang mempunyai kapabilitas tentang pendidikan moral, namun kita justru dibuat kecewa dengan konsep yang mereka tawarkan yaitu: konsep pacaran secara islami. Dengan pertimbangan bahwa kasus pacaran memang sudah tidak bisa dibendung lagi maka alternatifnya ialah menerapkan konsep pacaran secara islami, nauzubillah.
Inilah idiologi yang harus dicegat bagi orang yang masih punya hati, agar jangan sampai merusak pikiran kaum muslimin. Sebap konseb tersebut adalah buah pikiran dari JIL (jaringan islam liberal) yang mencampur adukkan antara kebajikan dengan kebatilan, yang mempergunakan logika untuk mengakali Al-qur’an dan As-sunnah. Munafik, bohong dan dusta dengan konsep yang mereka tawarkan, yang namanya haram tetaplah sesuatu yang haram. Selama tidak ada perintah yang jelas dari Al-qur’an dan As-sunnah yang menghalalkan sesuatu yang haram dalam kondisi dan keadaan tertentu, konsep yang mereka tawarkan merupakan sebuah keputus asaan dalam berdakwah.
Kitapun sudah tau dasar logika yang mereka pakai yaitu: mengapa pacaran diharamkan sebap ditakutkan adanya perzinahan, maka dengan logika selama tidak melakukan perzinahan maka pacaran tidak apa-apa. Bayangkan kitika konsep yang mereka tawarkan dapat tersebar luas di kalangan ummat Islam, maka seluruh larangan yang sifatnya haram dalam Al-qur’an dan As-sunnah dapat dirubah dengan logika menjadi sesuatu yang halal.
Minuman miras, yang diharamkan sebab dapat merusak urat sarap pada otak (mabuk) maka, selama kita tidak mabuk ketika memimumnya maka menjadi halallah miras tersebut. Daging babi yang diharamkan dalam Al-qur’an sebab didalam daging babi terdapat bakteri sejenis cacing yang dapat membahayakan kesehatan pada tubuh manusia apa bila mengkonsumsi dagingnya maka, ketika daging babi tersebut dimasak dalam suhu yang dapat membunuh bakteri tersebut maka, hukum haram berubah menjadi halal dengan menggunakan dasar logika. Dan masih banyak kasus lain didalam Al-quran yang akan dapat berubah dengan menggunakan metode yang mereka tawarkan.
Walaupun demikian Saya tetap memberikan apresiasi bagi para kartini muda yang masih memegang teguh prinsipnya sebagai perempuan tanpa menyalahi kudradnya sebagai wanita ditegah berbagai macam godaan, mampu bangkit melawan arus global ketika perempun yang lain mengagungkan popularitas yang tak bermoral dan terbawa arus pergaulan yang tidak mendidik. Dan mereka inilah yang kemudian menjadi pioner dalam keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Yang mampu mengangkat hak dan martabat kaum Perempuan dimata dunia dengan berbagai perestasi yang diraihnya serta namanya diagungkan sepanjang sejarah.
Ada seorang Perempuan yang kuliah di Universitas Mulawarman dan selamah kuliah Dia tetap memengang prinsipnya untuk tidak terjerumus kedalam ikatan pacaran selama masih kuliah, Ia memfokuskan diri untuk mencari ilmu dan dia sadar bahwa belum saatnya Dia memikirkan tentang jodoh. Walaupun toh juga kalau nanti setelah mendapatkan gelar sarjana Ia tidak mendapatkan pekerjaan dan harus mengurusi keluarga dan dapur tidak masalah, sebap paling tidak dengan bekal ilmu yang didapatkan ketika duduk di bangku kulia dapat mendidik Anak-anaknya biar menjadi orang yang pintar, beradab, dan bertaqwa sehingga tidak ada lagi Anak-anaknya yang tidak tau tentang tata cara menutup aurat yang benar sesuai dengan syari’at Islam. Sehingga Allah pun kemudian mengangkat martabatnya setelah lulus kulia Ia dilamar oleh seorang sarjana Agama yang sangat tampan dan bukan hanya sampai disitu harkatnya diangkat, gelar PNS pun diraihnya.
Ada pula seorang Perempuan yang ketika lulus MAN, ingin melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi, namun kondisi ekonomi yang kurang mendukung karena hanya mengandalkan hasil kebun salak milik kedua Orangtua yang hanya cukup untuk biaya makan sehari-hari. Ia kemudian bertambah sedih ketika melihat teman-teman seangkatannya yang dengan wajah ceria penuh semangat sebab akan melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi dengan biaya yang cukup. Kerena mempunyai wajah yang cantik maka ada seorang Pemudah yang berniat akan melamarnya, Pemudah tersebut adalah seorang yang kaya raya namun mempunyai kebiasaan buruk yaitu sering mabuk-mabukan dan doyan main judi.
Disatu sisi ketika Ia tidak menerima lamaran tersebut otomatis kedua Orang tuanya gak bisa menyekolakan adek-adeknya yang masih kecil-kecil, Ditambah dengan kondisi ekonomi keluarga yang serba kekurangan dan Orangtua yang tidak mempunyai penghasilan tambahan selain dari hasil kebun salak, sehingga dialah satu-satunya tumpuan kedua Orangtuanya agar mau menerima lamaran tersebut. sebap pemuda tersebut adalah seorang kaya raya, mobil hartop pun siap mengantarnya kemana saja ia mau, rumah yang mewah siap untuk dijadikan tempat tinggal serta kebun dan sawah yang luas menantinya.
Perempuan tersebut tetap pada pendiriannya untuk tetap melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi, dengan memberikan penjelasan pada kedua orang tuanya bahwa, harta dan kemewahan bukanlah sesuatu yang dapat membahagiakan apa lagi kalau hasil dari judi yang nantinya dijadikan nafkah buat Adik-adiknya. Dengan bermodalkan niat dan semangat yang tulus serta duit yang pas-pasan perempuan tersebut nekat berangkat kuliah kekota.
Subhanallah sungguh Allah maha pemberi rejeki kapada hambah-hambahnya yang bertaqwa, semenjak Ia kulia hasil panen dari kebun salak milik kedua orang tuanya meningkat dua kali-lipat dari hasil panen biasanya, hama tikus yang sering memakan buah salaknya kini menghilang entah kemanah, harganya pun selalu mahal di pasar dan anehnya lagi ketika musim kemarau datang pohon salaknya tetap segar dan tetap menghasilkan buah yang banyak. Dengan demikian hasil dari penjualan salak tersebut dapat membiayai kulianya sampai selesai dan biaya sekolah Adik-adiknya.
Begitupun ketika ia telah berhasil mendapatkan gelar sarjana, maka Allah kemudian memberikan jodo seorang Pemuda yang sangat jauh berbeda dari Pemuda yang sebelumnya ingin melamarnya ketika lulus MAN, dengan suami yang berpendidikan dengan gelar SHI yang kemudian terangkat menjadi kepala KUA di kecamatan dan sang perempuan juga mendapatkan gelar PNS sebagai guru SMP di kecamatan yang sama.
Demikianlah secuil pengetahuan yang Saya dapat paparkan tentang arah perrjuangan para Perempuan atau Kartini muda disaat sekarang dan di masa yang akan datang sebagai tanggung jawab guna mempersiapkan diri dari sekarang sebagai colon Ibu yang akan melahirkan Ank-anaknya, merawat dan mendidik menjadi pemimpin di Masyarakat, Bangsa dan Negara. Semoga kita dapat menganbil i’tibar dan pelajaran dari semua ini, dan Saya pribadi meminta maaf yang seberas-besarnya apa bila ada kata-kat yang kurang berkenan di hati para pembaca khususnya kaum Perempuan. Tidak ada maksud untuk memujokkan mereka, namun ini semua merupakan bentuk penghargaan Saya sebagai kaum Lelaki.
Besar harapan saya agar para Perempuan khususnya para Kohati agar semakin memperbanyak kegiatan pelatihan-pelatikan keterampilan sebagai modal mereka kelak dikemudian hari. Sehingga memberikan kesan yang positif bahwa mereka dapat berkreasi melalui pengetahuan dan wawasan.
Epilog dari penulis
Asal mula penciptaan seorang Perempuan adalah dari tulang rusuk
Hal ini menandakan bahwa tulang rusuk berpungsi sebagai penopang serta pelindung bagi jantung dan hati
Maka seorang Lelaki jangan sampai membuat sakit hati perasaan Perempuan dengan janji-janji palsu dan kata-kata manis yang penuh dusta
Sebab hati dan perasaan Seorang Perempuan tidak suka dibohogi
Sipat dari tulang rusuk adalah cembung
Hal ini menandakan bahwa seorang Perempuan mempunyai sipat yang sensitif dan peminim
Maka seorang Lelaki yang ingin menarik simpati seorang Perempuan harus bersikap lembut bukan dengan sikap yang kasar
Sebab perempuan tidak suka diperlakukan dengan cara yang kasar
Posisi tulang rusuk yang diambil buat penciptaan seorang Perempuan adalah tulang rusuk sebelah kiri dari seorang Laki-laki
Hal ini menandakan bahwa seorang Perempuan memerlukan perlindungan dari seorang Laki-laki
Maka berilah mereka perlindungan disaat Anda berada disisinya sehingga Dia merasa tenteran dan nyaman ketika berada bersama Anda
Sebab perempuan tidak suka melihat Lelaki yang lemah
Nb: ditulis untuk lomba karya tulis yang diadakan oleh KOHATI (korsp hmi wati) Cabang Samarinda dalam rangkah memperigati hari kartini
By : Departemen Data Pustaka
Sukri,S.HMI
0 komentar:
Posting Komentar