MENGANTISIPASI KONDISI GENERASI MUSLIM DARI JARING KEMUNGKARAN MODERNISASI
Dalam berbagai artikel, majalah dan buku, kita sering menyaksikan partisipasi pemuda yang begitu besar dalam pembagunan, penyumbang dan merupakan pendukung perkembagan bangsa dan Negara. Demikian juga, mereka dalam waktu yang sama merupakan harapan Islam, yang akan berjuang demi tegaknya panji Islam di hari esok dan akan mempertahankan undang-undang Islam (syariat), yang akan melindugi generasi muda Islam secara luas dari pengaruh gaya hidup barat (westernisasi) yang merusak, yang akan menjadi seorang pemimpin pada masa selanjutnya. Sekarang pemuda, besok akan menjadi pemimpin.
Karena itulah, agama kita menganjurkan agar kita menjadi seorang pemimpin Islam yang fleksibel bagi masyarakat yang pada akhirnya harus mempersembahkan sumbangan bagi peradaban masyarakat Islam secara luas. Ironisnya diera yang canggih dan moderen ini, kita menyaksikan perbuatan kaum muda generasi muslim selalu bertentangan dengan hokum-hukum Islam, modernisasi telah disalah artikan dengan mengikuti arus budaya barat dan semakin pesimis dengan kebudayaan mereka sendiri, padahal modernisasi harusnya membuat mereka tambah sadar akan pendidikan. Lebih sedihnya lagi jika kita perhatikan saudara-saudara kita kaum muslim di Negara kita yang berperilaku buruk dan mereka dengan segaja menghindari ajaran Islam dan lebih memilih megikuti kebudayaan Barat.
Dengan melihat kondisi generasi muslim yang kini sedang diimunisasi dengan ribuan jaring kemungkaran berkedok modernisasi seperti percintaan bermerek pacaran, yang dijadikan standar panggung dunia dewasa ini. Seseorang yang mencoba untuk menasehati telah dianggab gila oleh mereka, olokan, ejekan dan cacian yang malah mereka lontarkan dengan retorika yang begitu pasih bak propesor. Memang tidak mudah untuk menyembuhkan penyakit yang satu ini karena dilain sisi telah masuk kedalam wilayah privasi yang pada masa kini dikenal dengan bahasa trennya Siapa siihh… looh atau Gue-gue Elluu-ellu.
Jatuh cintah berjuta rasanya begitulah lirik lagu, karenanya benarlah rumusan cinta seorang penyair terkenal Syaugi Bey, katanya : Didahului dengan kerlingan mata, diiringi dengan senyum, kemudian tertegun, akhirnya jantung berdebar dan hati rindu menggelora. Atau seperti yang disebutkan dalam pantun-pantun lama : dari mana datangnya linta, dari sawah turun ke kali, dari mana datangnya cinta, dari mata turun ke hati. Dan syair-syair puisi yang berbunyi : cinta, kau manis tanpa gula, kau indah nan sempurna, kau surgaku dan kau hidup matiku, kekasih, kau rinduku, kau sayangku kau ku cinta kau ku manja dan kau belahan jiwaku.
Maka dari itu cinta mampu membuat hidup ini begitu manis, meskipun ia bukan madu, ia mampu menerangi kegelapan, meskipun ia bukan cahaya. Tapi bila ia diperkosa dalam ajang cumbu rayu pacaran yang dimotori nafsu syahwat yang dimurkai oleh Allah, maka ia mampu menggetirkan kalbu sepanjang masa, meski ia bukan empedu, lalu sepanjang masa pula ia mampu menggerogoti tubuh dalam duka, kecewa dan penyakit.
Pacaran di abad ini bagai ruh dalam bangkai busuk manusia. Pacaran diabad ini bagai bayi ditinggal mati ibunya, bahkan pacaran di abad ini bagai Fir’aun yang didewakan sebab ia berlaku umum yang awalnya diharamkan tapi tak diindahkan hingga membudaya dan berakar karena sengaja disiram serta dipupuk hingga rimbun tunas subur, rindang memayung. Telah begitu jauh langkah yang diayunkan untuk memproklamirkan pacaran yang sejauh itu pula prilaku tersebut telah menggerogoti ajaran Islam. Karenanya sudah semestinya kita menyadari sejek dini dengan kembali ke jalan Ilahi. Jalan yang tidak berlayang-layang dengan kisah cinta yang kandas ditepi-tepi jurang perzinahan.
pacaran di era moderen ini didesain kedalam bugkusan paket berupa tren yang diklaim sebagai anti mati gaya, sehingga para generasi muda jatuh kedalam kumangan pergaulan bebas sebebas-bebasnya yang untuk kemudian mengkristal menjadi ruh dari bagian gaya hidupnya. Teliga bagaikan tuli dan lidah terasa pahit bila sehari tak menyandungkan syair-syair nada penumbuh suasana syahwati sang kekasih. Apalagi kalau anak manusia tersebut dilandah cintah pertama, tentulah siang dan malam akan terbayang wajah kekasihnya, binar di dua bola matamu, rona memerah dipipimu, senyum kecil dibibirmu, dan ratusan pujian serupa sehingga sang kekasih tampak begitu sempurnah. Apalagi ditunjang dengan penampilan sang kekasih yang jauh dari tuntunan beragama sudah begitu komplek, hingga tak jarang daya tariknya menyeret onggokan cinta birahi si Abang yang mabuk kepayang.
Media masa yang tidak mendidik adalah salah satu faktor dominan yang telah mencuci pikiran para generasi sekarang ini, dengan berbagai macam tayangan film yang disajikan dengan adegan percintaan yang vulgar, jorok dan menjijikkan yang diperankan si cantik dan aduhai guna membius konsumen keperilaku amoral. Seks yang merupakan fitrah dan karunia Allah yang indah, kini berubah fungsi menjadi ajang komoditi mencari keuntungan sebesar mungkin, norma-norma yang berlaku dalam tata kehidupan tidak lagi menjadi pegangan, puncak eksploitasi terlihat dengan hadirnya segudang pendatang baru yang kian menantang dan minat untuk meniti karir di layar lebar kian membludak hal ini terlihat jelas dengan adanya ajang seleksi jutaan orang yang ikut bersaing.
Padahal lebih baik membuat film yang bermutu walaupun sedikit, daripada membuat film banyak tetapi meracuni masyarakat. Kenyataannya film-film kacangan yang mengumbar nafsu dan selera rendah terus saja diproduksi. Bahkan si bintang yang memerankan adegan itu merasa jijik melihat filmnya sendiri, sedangkan pihak produser semakain berani, sementara gunting Badan Sensor Film terasa kian tumpul. Ketumpulan inilah yang membuat produser semakin leluasa membuat film bermotif percintaan, asmara dan seks dengan alasan kebutuhan pasar, mereka tidak mau merugi sebab keuntungan yang mereka cari meskipun kebuntungan moral dikikis setiap hari. Padahal film-flim bernuansa Islam semisal Ayat-ayat Cinta dan Ketika Cinta Brtasbih yang diangkat dari buku novel karangan Habiburrahman El Shirazy terbukti dapat memukau para konsumen hal ini dibuktikan dengan rekor penjualan novel tersebut. Begitu juga dengan film Laskar Pelagi dengan nuansa pendidikan, lantas kenapa kita tidak memperbanyak tayangan film-film semisal ini yang begitu diminati dan mendidik.
Kehancuran moral generasi ini tercermin dari sekian banyak wanita yang berantrian panjang berebut kursi popularitas, hingga siap melepaskan seluruh auratnya. Tentunya dengan modal yang cukup paten, wajah bisa dijual kerena cantik atau tubuh yang menawan. Peran, skenario dan judul filmpun mereka tidak tolak walaupun dengan adegan seks sekalipun. Bahkan mereka tidak mau menggunakan peran pengganti dengan alasan agar mereka bisa mengontrol baik emosi maupun akting. Inilah ucapan mereka yang mencerminkan kalbunya telah rusak sangat parah. Ingatlah, didalam jasad itu ada sekerat daging, jika ia baik, baiklah jasad seluruhnya, dan jika ia rusak, rusaklah jasad seluruhnya. Ingatlah, ia adalah hati. (H.R. Bukhari Muslim).
Sungguh ini merupakan bukti adanya profil wanita-wanita yang mau mengakui kondisi diri mereka. Bahkan mengeksploitir lengkungan tubuhnya demi kepentingannya, sekujur tubuhnya yang merupakan aset berharga didayagunakan sedemikian rupa sehingga menjadi alat untuk bisa menguasai pria. Itulah sebabnya, peristiwa tentang seorang pria yang bertekuk lutut di bawah kerlingan wanita, bukan sekedar menggejala. Tapi telah memasyarakat dan membudaya, dengan senjata kewanitaannya mereka panggang hati laki-laki dan mereka peroleh dengan mudah segala apa yang menjadi keinginannya. Tidak salah bila Islam menggambarkan wanita sebagai tiang negara. Kata-kata manis, senyuman yang manis, dan lirikan mata menggoda mampu mengubah keadaan dunia seratus delapan puluh derajat. Apalagi kalau sang Abang telah bertekuk lutut dihadapannya.
Suara yang lembut nan syahdu berdesah lagi, dengan mimik wajah memelas, bermanjakan kegemulaian diri, pandangan mata yang sayu, digunakan untuk menggugah naluri dan perasaan sang Abang hem... mati kita. Dengan demikian wanita mampu menyungkurkan kedudukan sang pemimpin. Fakta sejarah telah membuktikan, seperti sosok Julius Caesar yang gagah perkasa terperdaya di bawah kerlingan Cleo Patra, Napoleon Bonaparte yang dijuluki singa daratan eropa tunduk dibawah goyangan Margaret Yosepin. Ada apa dengan pria kesatria tersebut jawabnya kerena mereka telah kehilangan dua pertiga akalnya, padahal mereka semuanya adalah orang-orang pilihan, pandai, berani, tapi sekarang kok jadi mati akal, tersungkur dalam kebingungan mati gaya.
Salah satu penomena yang kian mencemari budaya timur adalah telah merambahnya budaya barat dengan paket berupa mode atau gaya berpakaiyan dengan berbagai macam motif. Hal inilah yang diperingatkan sekaligus kecemasan sang Idola kaum Muslim di dunia yaitu Baginda Nabi Muhammad SAW. 14 abad yang lalu beliu bersabda didepan para sahabat bahwasanya kelak ummatnya akan dijadikan mangsa yang empuk oleh kaum Musyrik, beliau menggambarkan kondisi ummatnya bagai hidangan diatas meja yang siap diterkam dari berbagai sisi. Lalu para sahabat bertanya apakah jumlah ummat Islam pada saat itu jumlahnya sedikit? Beliau menjawab tidak, kondisi ummatku pada saat itu jumlahnya sangat banyak seperti busa dilautan atau butiran pasir digurun. Lalu para sahabat kembali bertanya, apa yang membuat mereka sedemikian rapuh? Beliau berkata, yang membuat mereka lemah ialah bercerai-berai dalam perdebatan, tidak mematuhi perintah Al-qur’an dan Sunnahku. Benteng iman mereka sangat lemah dan rapuh sehingga dengan mudah mereka menerima budaya yang baru tanpa melalui saringan atau pilter akidah.
Pakaiyan yang fungsinya menutup aurat dan melindungi dari mara bahaya tangan-tangan jail, telah kehilangan makna hakikatnya, dengan berganti busana yang semakin sempit, rok mini, celana jeans. Mereka merasa bangga bila mampu meneteskan liur para pria dengan busananya yang serba bebas. Mereka lebih berani memperlihatkan tubuhnya dalam balutan busana yang feminim, tanpa sedikitpun perasaan malu. Ditonjolkannya bentuk liku-liku tubuh, diperluasnya areal pameran punggung, meruncingkan kerah belahan dada, menggunting lengan ketiaknya, menceraikan rok dari dengkulnya, bahkan lebih memancing para pria sebagai terdakwa dalam tindak pidana.
Kenyataannya memang demikian, jebolan pesantren atau sekolah agamapun tak bisa dijadikan sebagai jaminan, buktinya masih banyak diluar sana yang mengaku anak pondok, anak pesantren, dan sekolah agama, tapi mereka larut dalam arus desentrasi nilai-nilai identitasnya sebagai Ummat Islam.dan lebih parahnya lagi mereka malah dijadikan bahan tertawaan, sebab dulunya mereka masih menolak dan mengutuk keras tindakan kaum muda yang telah lebih dulu masuk kedalam komunitas amoral tersebut, namun kenyataanya suara-suara penolakan yang semulah lantang kini mulai meredup yang akhirnya hilang ditelan pengaruh pergaulan tersebut dan kini mereka justru berbalik arah menentang nilai-nilai agama yang pernah ia sandang.
Untuk mencari sosok yang dapat dijadikan panutan atau contoh oleh kaum generasi yang tetap konsisten terhadap nilai-nilai Agama dimasa sekarang sangatlah jarang kita temui. Peranan lembaga pendidikan yang bernaung dibawah binaan Departemen Agama (depag), serta keberadaan Organisasi kemahasiswaan yang merupakan kaum terpelajar dan terdidik dengan lebel Islam. Yang diharapkan dapat memberikan contoh kepada masyarakat dengan kemuliaan akhlak, rutinitas seperti ibadah sholat mereka kerjakan, pakaiyan keislaman seperti jilbab masik mereka pakai, tapi diluar rumah mereka dengan gamblangnya mempertontonkan sang pacar, rasa malu sudah hilang dari diri mereka padahal malu sangat bertalian erat dengan Agama.
Sekularisasi, pemisahan aspek kehidupan dengan ritus Islam dengan dalih modernisasi sudah merasuki pemuda-pemuda Muslim. Inikah akibat kehidupan zaman modern? Lantas, bagaimana sebenarnya cara kita menafsirkan modernisasi tersebut? Kita hanya mampu melihat selintas saja dan menengok dari sisi jendela yang sempit. Hingga terlahir modernisasi yang keliru ditafsirkan, kemajuan-kemajuan yang kemudian disalah artikan, yang berakibat kaburnya nilai-nilai yang mendasari akhlakul karima, padahal modernisasi harusnya diartikan secara luas melalui wawasan keilmuan untuk melahirkan gagasan atau ide-ide yang dapat disumbangkan guna kemaslahatan ummat manusia, serta dapat membuka paradigma berpikir kita guna melakukan diskripsi yang mengacu pada nilai-nilai universal sebagai ajang akomuditi global atau masa-kemasa.
Namun yang terjadi dewasa ini adalah pengeksporan besar-besaran budaya barat yang siap mengimunisasi akidah penduduk muslim, muslimin dibanyak belahan dunia, dengan senang hati bersikap welcome menyambut paket budaya barat tersebut. Kaum muslim tak sanggup menahan akses-akses dari budaya mereka. Dekadensi moral dalam masyarakat telah terkontamidasi kebarat-baratan, angka pergaulan bebas semakin mencengangkan, pezinahan meraja lela, kasus aborsi semakin berani dilakukan dan tingkat kriminal semaki tak terbendungkan. Padahal itu semua adalah bagian dari Gerakan Pemurtadan yang barat rencanakan secara rapi. Dengan didukung dengan sarana-sarana yang canggih pula.
Gerakan Pemurtadan tersebut dilancarkan oleh golongan Yahudi, Nasrani, dan Musyrikin. Mereka menggunakan berbagai macam cara untuk menghancurkan kaum Muslim, perang militer berkedok membasmi terorisme seperti yang mereka lakukan terhadap saudara-saudara kita di Afganistan. Perang berkedok pembebasan kaum Muslim dari penindasan resim Saddam Husaen di Irak, dan perang perampasan tanah, dengan terang-terang mereka lakukan terhadap saudara-saudara kita di Palestina. Selain itu mereka juga memakai cara perang melalui peradaban dengan cara menghancurkan akhlaq dan akidah generasi muslim melalui budaya materialis, glamor dan tak beradab. Dan yang sekarang telah mulai melanda gunerasi muslim adalah perang dengan gaya pemikiran tentu dengan tujuan menghilangkan jati diri kaum muslim, sehingga tak mengherankan kalau metode-metode, rumusan-rumusan dan cara-cara yang banyak digunakan saat ini adalah hasil buah pikiran kaum Barat maka, kaburlah sudah jati diri generasi muslim yang lebih percaya kepada dunia Barat ketimbang dunia Islam.
Mudah-mudahan kita semua selaku generasi Muslim sebagai harapan Islam dapat membentengi diri dari hal-hal yang bertentangan dengan ajaran Al-Qur’an dan Al-Hadits. Tak ada manusia yang sempurnah didunia ini semua pasti ada kekurangannya, termasuk diri saya pribadi. Namun tidak ada salahnya untuk saling mengigatkan kepada jalan kebaikan, walaupun sangat mungkin kalau diri saya pribadi belum melakukan hal-hal tersebut seperti yang saya tuliskan lewat penah yang penuh kekurangan dan kelemahan, tapi tentunya itu semua merupakn motivasi buat diri saya pribadi sehingga akan melahirkan kesesuaian antara perkataan dan perbuata atau kesesuian antara IQ dengan ESQ. Sesungguhnya Allah maha penyayang bagi Hamba-hambanya yang khilap ataupun lupa, dengan menyediakan ampunan yang begitu besar bahkan ketika nafas sudah mau keluar dari tenggorokan (sakaratul maut).
By : Sukri, S.Hmi
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar