Membicarakan cuaca.
Cuaca adalah metafora. Menanyakan cuaca menjadi ungkapan yang digunakan saat masing-masing pihak menyimpan hal lain yang gentar diutarakan.
‘Bagaimana cuacamu?’
‘Aku biru.’
‘Aku kelabu.’
Keangkuhan memecah jalan ini, kendati cuaca menalikannya. Kebisuan menjebak dalam permainan dugaan, lingkaran tebak-menebak, agar yang tersirat tetap tak tersurat.
‘Bagaimana cuacamu?’
‘Aku cerah, sama sekali tidak berawan. Kamu?’
‘Bersih dan tenang. Tak ada awan.’
Batin ini meringis karena berbohong. Batinnya tergugu karena telah dibohongi. Namun kesatuan diri telah memutuskan demikian: menampilkan cerah yang tak sejati karena awan mendung tak pantas jadi pajangan.
Cuaca demi cuaca telah dilalui, dan kebenaran akan semakin dipojokkan. Sampai akhirnya nanti, badai meletus dan menyisakan kejujuran yang bersinar. Entah menghangatkan atau menghanguskan.
Taken from:
By: Fiya Aguilera
Kunjungilah http://kohatiloveshmi.blogspot.com
0 komentar:
Posting Komentar