rss

Sabtu, 18 Juli 2009

PEMBANGUNAN KAMPUS YANG TAK KUNJUNG TEREALISASI


Tahun 2007 merupakan awal aku mengiku unjuk rasa atau yang biasa dikenal dengan sebutan DEMO, pada saat masih sekolah dulu aku sering melihat hal tersebut dimedia elektronik atau TV ada rasa kagum ketika melihat para Mahasiswa dengan antusias memperjuangkan aspirasi rakyat sehingga Mahasiswa biasa di identikkan dengan istilah DPR berjalan dan suara Mahasiswa adalah suara Tuhan yang memperjuangkan hak-hak rakyat kepada para pemimpin Negeri ini. Unjuk rasa yang saya ikuti pada saat itu atas nama BEM Mahasiswa STAIN yang menuntuk aggaran atau alokasi dana untuk pembagunan Kampus di Samarinda Seberang tepatnya di Jalan poros Samarinda Balikpapan dengan target Demontrasi Kantor Perwakilan Rakyat Kalimantan Timur (propensi). Memang cukup beralasan ketika BEM menuntut dana untuk alokasi pembagunan Kampus STAIN Samarinda yang dijanjikan akan rampung pada Tahun 2008 namun, realitasnya dilapangan penbangunan baru sebatas perataan tanah tanpa ada satupun bagunan yang berdiri di lokasi pembangunan tersebut dan lebih parahnya lagi tanah yang didatarkan tersebut dijadikan lokasi lombah Burung Merpati oleh warga setempat.

Dana yang pada saat itu yang Mahasiswa dapat dari berbagai data sebesar 48 Meliar yang rencananya untuk pembagunan Kampus sehingga Mahasiswa mempertanyakannya dengan dugaan bahwa dana tersebut telah disalah gunakan oleh DPRD Propensi. Sangat wajar kalau para Mahasiswa STAIN tidak sabar untuk menempati Kampus baru mereka mengingat bagunan Kampus yang berada di kawasan Abul Hasan tersebut kian hari semakin sempit oleh Jumlah Mahasiswa disamping itu STAIN ingin menaikan staturnya menjadi IAIN Samarinda yang notabenenya Samarinda sebagai Ibu Kota Kalimantan Timur yang mempunyai sumber alam yang melimpah namun belum bisa mendirikan sebuah Kampus IAIN sebagai langkah untuk mencerdaskan Warga Kal-Tim dan untuk mencetak sumber daya manusia yang berkualitas melalui pendidikan.

Ada rasa bangga serta rasa haru ketika melihat teman-teman Mahasiswa yang masih mau memperjuangkan Kampus mereka sebagai bukti rasa cintanya terhadap Kampusnya walaupun jumlahnya sedikit, namun ada juga rasa kecewa ketika melihat sebahagian besar Mahasiswa yang terkesan cuek dengan masalah tersebut dan meganggab enteng unjuk rasa Mahasiswa dengan argumen bahwa gak didegarin juga ama pemerintah cuman buang-buang waktu aja dan mereka meganggap lobi lewat purum diskusi adalah carah yang lebih epektif, pada hal Mahasiswa yang berunjuk rasa juga mengalami rasa capek, kepanasan dan bahkan mendapatkan tendangan serta pentugan dari aparat kepolisian tetapi mengapa mereka mau melakukan hal tersebut? apakah untuk gaya-gayaan saja jawabnya tentu tidak tapi di Negeri ini cara tersebutlah yang dapat dilakukan dan cara inipun terkadang gak didegarin apalagi dengan cara yang dianggab oleh sebagian besar Mahasiswa kita, namun apapun kata mereka relitasnya pada Tahun 1998 resim orde baru bisa dilengserkan lewat cara Demontrasi.

Dengan isu dana pembagunan Kampus yang merupakan alat pital Mahasiswa guna kelancaran proses perkuliahan sewajarnyalah para Mahasiswa pada saat itu sadar sejenak untuk berbaur dengan teman-teman Mahasiswa lainya, tapi jumlah mahasiswa pada saat itu yang turun cuman puluhan orang saja padahal didepan gerbang DPR telah berjejer ratusan polisi yang dipersiapkan untuk menghalau laju Mahasiswa. Sebuah jumlah yang tidak seimbang dilapangan dan buktinya polisi semakin meremehkan Mahasiswa dan Kampus STAIN kini cuman cerita dogeng belaka pengantar tidur para Mahasiswa yang memimpikan Ijasa Sarjananya untuk mendambakan pekerjaan.

Kini Kampus STAIN menapakkan pondasinya di Tahun 2009 dan menerima Mahasiswa baru tapi, Kampus baru di Seberang tak menunjukkan bagunan baru yang ada adalah semak belukar yang kian tumbuh subur seiring dengan para koruptor yang semakin subur dengan kemewahannya. Pendidikan yang berbegron Agama kian hari semakin meredup, diintimidasi, dianaktirikan dan dikebiri pendanaannya. Sebagai Mahasiswa yang Kulia di STAIN dengan latar belakang pendidikan Agama MTSN dan MAN sangat prihatin dengan kondisi pendidikan Agama tersebut yang merasa dianak tirikan oleh pemerintah dan dianggab remeh oleh pendidikan umum yang saya pribadi sudah rasakan dari dulu hingga sekarang.

Kalimantan Timur dan Samarinda khususnya dengan menyandang status propensi terkaya di Indonesia dan daerah penghasil Batu Bara terkaya di Dunia seyogyanyalah menuntuk pembagunan inspratuktur berupa bagunan untuk pendidikan yang memadai. Seyogyanyalah pula pendidikan yang berlatar belakang Agama harus mencerminkan Nilai-nilai Agama sebagai toggak perjuangan dengan melakukan trsparansi mengenai keuangannya tanpa harus selalu memeras para Mahasiswanya dengan tuntutan pinansial yang kian memberatkan dan untuk apa dana tersebut digunakan. Dan para Mahasiswa khususnya diri saya pribadi untuk bisa mengabdikan diri untuk memperjuangkan aspirasi rakyat baik itu ditingkat masyarakat maupun tingkatan kampus yang tentu saja mempunyai perwakilan berupa BEM yang diharapkan setiap saat mengkritisi kebijakan Kampusnya yang tidak memihak dengan Mahasiswanya, namun BEM di Kampus STAIN Samarinda telah kehilangan Taji Kemahasiswaannya maka, wajarlah ketika HMI Komisariat Tarbiyah STAIN Samarinda mempertanyakan keberadaan Teman-teman Mahasiswa yang berada di dalam BEM yang seharusnya mempertanyakan dana pembagunan kampus, dana PKL, KKL dan dana untuk kegiatan mereka secara transparan kepada masyarakat Kampus, bukan malah mempertanyakan keberadaan HMI di STAIN.

By : Sukri,S.Hmi


0 komentar:

 
"Jadikan Waktu Kita Untuk Berkarya dan Bermanfaat..Green Black Community"

Baksos

Baksos
Penyerahan Baju layak pakai Oleh pengurus Korban Kebakaran Belibis Oktober 2009

Life Manajemen Training

Life Manajemen Training
LMT...Bersama BNK Kota Samarinda 27- 29 Oktober 2009

Memories 2007

Pengurus 2008

Pengurus 2008