rss

Kamis, 23 April 2009

KEPEMIMPINAN


Bismillahirrohmanirrohim.

Teriring salam dan do’a semoga Allah Swt senantiasa melimpahkan rahmat, taufiq dan hidayahnya kepada kita semua dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab kita selaku khalifah di muka bumi,. Amin

Saudara-saudariku sehimpunan,

Memiliki pemimpin yang ideal adalah sebuah harapan bagi kita sekalian. Kalau saja bisa memiliki pemimpin yang sangat tangguh akan menjadi luar biasa. Karena jatuh bangun kita tergantung pada pemimpin. Pemimpin memimpin, pengikut mengikut. Kalau pemimpin sudah tidak bisa memimpin dengan baik, cirinya adalah pengikut tidak mau lagi mengikuti. Para pengikut menduplikasi pemimpinnya. Oleh karena itu kualitas kita tergantung kualitas pimpinan kita. Makin kuat yang memimpin maka makin kuat pula rakyatnya. Kalau kita lihat kondisi bangsa kita sekarang jangan pesimis, kalau kita tidak bisa memimpin sekarang, mudah-mudahan generasi kita yang akan datang akan melahirkan pemimpin-pemimpin yang berkualitas tinggi.

Apakah pemimpin itu lahir begitu saja? Kalau singa, sudah dilahirkan menjadi raja hutan, tetapi manusia ada yang memiliki bakat menjadi pemimpin, belum tentu dapat memimpin dengan baik kalau tidak disertai dengan ilmu. Menurut analisa di Indonesia, ada jenis pemimpin jebolan dari pesantrenan: dibesarkan di pesantren, ilmu agamanya luas, tapi kelemahannya kata para ahli adalah dalam bidang manajemen, sehingga sulit untuk mengurus sesuatu yang besar. Ada juga yang birokrat: aktifis, kemampuan organisasinya bagus tetapi pendalaman agamanya belum mantap. Ada tipe mubaligh yang seperti selebritis: dia ceramahnya bagus, diliput media massa, akhirnya jadi terkenal dimana-mana, dijadikan idola, tetapi kadang-kadang kurang mengakar dalam menggerakkan masyarakat. Untuk itu seorang pemimpin minimal mumpuni dalam keilmuannya, berkemampuan dalam manajemen dan mampu membangun opini di masyarakat.

Pemimpin itu bukan yang mengerjakan segalanya sendiri, kalau Ia mengerjakan sendiri akan gagal Ia memimpin. Seorang pemimpin tidak boleh menguntungkan diri sendari karena akan sengsara nantinya, karena kita sering merasa untung jika kita untung sendiri, padahal keuntungan sebenarnya bagi kita adalah jika kita bisa menjadi jalan keuntungan bagi orang lain.

Apakah rahasia utama kepemimpinan? Jawabannya adalah : kekuatan terbesar seorang pemimpin bukan dari kekuasaanya, bukan dari kecerdasannya, tapi dari kekuatan pribadinya. Maka jika ingin menjadi pemimpin yang baik, jangan pikirkan orang lain, pikirkan diri sendiri dulu. Tidak akan bisa mengubah orang lain dengan efektif sebelum merubah diri sendiri, tidak mungkin merubah masyarakat kalau keluarga kita masih sering terjadi pertikaian didalamnya, apa lagi hanya karnah masalah-masalah yang sepeleh aja kita gak mampu merubahnya dalam keluarga kita.Sebuah bangunan bagus, kokoh, megah karena ada pondasinya. Maka sibuk memikirkan membangun umat, membangun masyarakat, merubah dunia akan menjadi omong kosong kalau tidak diawali dengan diri sendiri dan keluarga.

Ibu yang ingin anaknya ramah, lembut, pertanyaannya adalah sudah ramah dan lembutkah saya? Jangan menyuruh orang lain kalau belum menyuruh diri sendiri, jangan melarang orang lain sebelum melarang diri. Orang yang tidak cocok antara perbuatan dan perkataan akan runtuh wibawanya. Guru, ibu, bapak atau pemimpin akan runtuh wibawanya kalu tidak selaras perkataan dan perbuatannya. Siapapun kalau tidak serius menjadi contoh akan jatuh wibawanya.

Jadi kalau kita berangan-angan ingin jadi pemimpin jangan memikirkan bawahan, pikirkan saja diri kita dulu. Merubah orang lain tanpa merubah diri sendiri adalah mimpi. Mengendalikan orang lain tanpa mengendalikan diri adalah omong kosong. Misalnya ketika sedang rapat kita sombong, berapa banyak potensi yang tidak bisa keluar hanya karena pemimpinannya sombong. Rapat yang dipimpin dengan emosional akan banyak potensi, solusi yang tidak dapat keluar karena pemimpinnya emosional. Makanya seorang pemimpin sejati selalu bekerja keras memperbaiki dirinya sebelum sibuk memperbaiki orang lain.

Hal per-tama yang perlu diperhatikan dalam menjadi contoh atau suri tauladan, modalnya harus yakin dan tegas dengan kebenaran contoh tersebut, ketika dia melakukan kesalahan maka Ia akan mengakuinya dan bersedia untuk merubahnya, begitupun ketika ada kebaikan yang dilakukannya maka dia akan mempertahankan kebenaran tersebut dan menyuruh orang lain untuk mengikuti kebenaran. Karena kalau kita tidak yakin atau ragu-ragu kita tidak dapat menjadi contoh. Hanya orang yang berpengetahuan luas serta yakin akan ilmunya yang berhasil menjadi contoh.

Jangan seperti kisah seorang Ayah dan Anak yang ingin berangkat dari desa ke sebuah kota dengan menunggangi seekor keledai, ketika berangkat sang Ayah menunggangi keledai dan sang Anak pun berjalan kaki, ketika tiba pada sebuah kampung, warga disekitarnya berkata “orang tua tersebut tidak sayang sama Anaknya, masak Anaknya disuruh jalan kaki sedangkan Ayahnya menunggagi keledai”, maka mendengar bisik-bisik dari warga kampung, sang Ayah pun turun dan menyuruh Anaknya untuk menunggagi keledai. Ketika sampai pada perkampungan berikutnya maka warga yang berada pada kampung tersebut berkata “ alangkah tidak sopannya Anak tersebut, masak Ayahnya disuruh jalan kaki” mendengar ucapan warga yang dilewatinya maka, sang Ayah pun menyuruh Anaknya untuk turun dan mereka pun berdua berjalan kaki. ketika sampai pada perkampungan yang dilewatinya maka, warga pun mengejek mereka dengan berkata “alangkah bodohnya mereka berdua punya keledai tapi tidak ditunggagi”, mendengar ucapan warga maka mereka pun menunggagi keledai tersebut berdua. Dan ketika sudah memasuki pintu gerbang kota, penduduk kota pun mengejek mereka dengan perkataan “dasar orang desa tidak kasihan sama binatang, masak keledai ditunggagi berdua”.

Hal yang ke-dua adalah; orang itu dapat menjadi contoh kalau ia sudah mengamalkannya, kalau tidak mengamalkannya tidak akan ada ruhnya. Orang yang sibuk memberi contoh tetapi orang itu belum menikmatinya akan menjadi susah juga. Hati itu tidak bisa disentuh kecuali dengan hati juga. Ketika kita sukses dalam memberi contoh, jangan ujub, karena orang lain berubah belum tentu karena contoh kita. Jangan pernah merasa berjasa, jangan merasa sudah merubah orang lain, karena yang membolak-balikkan hati adalah hanya Allah. Kalau kita sudah merasa beramal sebaiknya dilupakan saja, bukankah piala sebesar apapun akan kecil artinya, yang paling berharga adalah keiklasan. Apalah artinya jika kita dapat piala yang akan membuat kita riya.

Hal yang ke-tiga adalah: kalau ingin menyuruh atau menjadi contoh harus bersabar, karena sabar itu indah. Karena menyuruh orang lain tidaklah seperti membalikkan telapak tangan. Pemimpin yang tidak punya kesabaran tidak akan dapat memimpin dengan baik. Tugas kita adalah memberikan contoh, kalau belum menurut sekarang, mungkin besok. Kalau pemimpin tidak punya kesabaran tidak akan efektif.

bukankah pelagi yang terlihat indah karena adanya berbagai macam warnah yang menghiasinya, begitu juga seorang pemimpin akan menjadi semakin dewasa dan bijak ketika Ia mampu bersabar dalam menghadapi berbagai macam masalah dalam berorganisasi”.

Hal yang ke-empat adalah; harus ikhlas, ciri orang yang ikhlas itu adalah jarang kecewa. Orang yang ikhlas itu dipuji/dicaci sama saja. Kalau kita bertambah semangat ketika dipuji, dan patah semangat karena dicaci, tidak melakukan karena tidak ada yang memuji itu namanya kurang ikhlas. Kita hanya melakukan saja, mau dipuji atau tidak silakan saja, Allah Maha Melihat. Makanya terus memberi contoh sambil terus berharap diterima Allah amalan kita. Dengan kombinasi keyakinan, yang kita contohkan menjadi bagian dari diri kita, kesabaran yang prima, dan keikhlasan.

“bunga yang selalu setia mempesona mata dengan keindahannya dan menebarkan aroma semerbak wanginya kepada setiap orang yang melewatinya, tapi sang bunga tidak akan layu dan tak beraroma walaupun tak ada orang yang memuji keindahan dan keharumannya”.

“kopi terasa mantap untuk dinikmati diwaktu meminumnya karnah ada gula didalamnya, tapi pernahkah kita menyebut gula ketika kita menyodorkan secangkir kopi atau teh kepada tamu. Walaupun gula tak disebutkan namanya tapi Ia tetap iklas memberikan rasa manisnya pada kopi atau teh yang kita minum”.

Kita juga harus paham bahwa kepemimpinan itu adalah pengaruh, siapa yang pengaruhnya paling kuat dialah yang kepemimpinannya paling kuat. Jika kita ingin menyelamatkan orang lain harus terlebih dahulu menyelamatkan diri, bagaimana mungkin menyelamatkan orang lain, kalau diri kita tidak selamat. Kita tidak akan dapat menolong orang lain kalau kitanya rusak.

Hal yang ke-lima adalah pemimpin yang sukses ialah yang berpikir keras bagaimana orang-orang yang dipimpinnya bisa menjadi khalifah di dunia ini, pandai, profesional dan kerjanya bagus. Dia korbankan dirinya supaya orang-orang disekelilingnya bertambah pintar. Kebahagiaan kita itu adalah ketika melihat orang lain sukses. Orang yang mengikuti kita jadi pintar karena Allah yang membuatnya pintar, bukan karena kita. Kita beruntung karena terpilih jadi jalannya yaitu belajar kepada kita, bisa saja Allah menggerakkannya belajar kepada orang lain, dan orang lain yang mendapatkan pahalanya.

Hal yang ke-enam adalah: para pemimpin harus sama-sama kerja sesuai dengan job masing-masing, jadi dengan sama-sama kerja sesuai dengan tugasnya masing-masing maka para pemimpinpun akan semakin bertanggung jawab. Mengapah permasalahan bangsa ini tak kunjung terselesaikan? Kalau kita mau memandang secarah obyektif maka akan kita temui bahwa pera pemimpin negeri ini belum bekerja secara sama-sama, bukankah system pemerintahan sudah ada yang mengaturnya dan masalah tugas dan tanggung jawab sudah dibagi secara propesional. Tapi sekali lagi para pemimpin kita belum dapat bekerja secarah propesional..

“Bukankah bangunan yang kita nikmati sekarang ini dapat berdiri dengan kokoh karenah didalamnya terdapat berbagai macam komponen material yang bekerja sesuai dengan tugasnya masing-masing: Ada genteng/seng sebagai atap, tehel/keramik sebagai lantainya, tembok/triplek sebagai dindingnya, batu gunung/besi/baja sebagai pondasi dan tiangnya, dan sebagainya yang menyatu menjadi satu bangunan sehinggah menjadi kokoh, tapi pernahkah kita berpikir apa jadinya bangunan tersebut kalau satu saja komponen yang tidak bekerja sesuai dengan kapasitasnya?”.

Hal yang ke-tujuh adalah: Pimpinan harus berhasil mencari masalah, dia berhasil merumuskan penyelesaian masalah, dan dia berhasil melakukan apa yang dia rumuskan. Jangan menjadi pemimpin yang bisanya cuman mempermasalahkan masalah yang tadinya niatnya untuk menyelesaikan masalah eehh malah bertambah masalahnya, tapi jadilah pemimpin yang selalu membuat orang-orang disekitarnya pintar, selalu menemukan masalah, bisa mencari solusinya. Kita jangan juga sok pintar mencari solusi sendiri. Jadi bukan pemimpin yang baik jika segalanya dikerjakan sendirian. Akan capek nantinya, pemimpin adalah yang dapat membuat orang bangkit rasa percaya dirinya.

Hal yang ke-delapan adalah: seorang pemimpin berkewajiban sebagai pelayan ummat. Jadi kalau diilustrasikan lewat piramida, piramidanya seperti piramida terbalik, dan pemimpin adalah yang dibawah. Maka siapapun yang menjadi pemimpin, dia harus mengeluarkan pengorbanan yang paling besar dibanding dengan orang yang dipimpinnya. Pemimpin harus berpikir keras, sekuat-kuatnya untuk memajukan orang yang dipimpinnya. Seorang guru yang baik adalah yang membuat murid-muridnya pintar, kalau tidak guru tersebut dianggap tidak bisa mengajar. Serang pemimpin yang sukses adalah pemimpin yang mengeksploitir dirinya supaya bawahannya lebih baik dari dirinya nantinya sebagai generasi penerus, dan kesuksesan dalam perkaderan bukan pada masa Ia memimpin tapi bangai mana Ia mampu menyediakan generasi penerus sebuah organisasinya.

Billahi taufiq wal hidayah

0 komentar:

 
"Jadikan Waktu Kita Untuk Berkarya dan Bermanfaat..Green Black Community"

Baksos

Baksos
Penyerahan Baju layak pakai Oleh pengurus Korban Kebakaran Belibis Oktober 2009

Life Manajemen Training

Life Manajemen Training
LMT...Bersama BNK Kota Samarinda 27- 29 Oktober 2009

Memories 2007

Pengurus 2008

Pengurus 2008