rss

Kamis, 27 November 2008

Sekilas HMI

Latar Belakang

HMI adalah singkatan Himpunan Mahasiswa Islam. HMI merupakan Organisasi Kemahasiswaan dan kepemudaan ekstern yang bersifat independen yang berazaskan Islam yang didirikan pada tanggal 14 Rabiul Awal 1366 H bertepatan tanggal 05 Februari 1947 di Yogyakarta oleh Prof. Lafran Pane (Alm), dengan beberapa teman kuliahnya di sekolah Tinggi Islam (Sekarang Universitas Islam Indonesia, UII) Yogyakarta. HMI Berdiri dilatar belakangi oleh semangat keIslaman - kebangsaan dalam rangka mempertahankan kemerdekaan Indonesia. HMI merupakan organisasi tertua di Indonesia. HMI berbasis di Kampus. HMI telah mengkader dan mempunyai anggota mahasiswa dan alumni yang tersebar di segala lapisan masyarakat, di seluruh Indonesia, serta turut mewarnai perjalanan bangsa Indonesia serta berperan aktif dalam pembangunan.

Dua landasan HMI berdiri dengan semangat : Mempertahankan Dan Mengisi Kemerdekaan Negara Republik Indonesia, Menegakan Dan Mengembangkan Ajaran Agama Islam. Dengan semangat inilah HMI berdiri dan mampu mengarungi sejarah. Mengingat bahwa beberapa dekade terakhir ini banyak kalangan Alumni HMI itu sendiri mengatakan bahwa HMI saat ini dapat dikatakan sudah bergeser dari apa yang menjadi tujuan HMI itu sendiri, baik itu dari segi ke-Islaman HMI yang notabene merupakan organ yang berasaskan Islam yang berpedoman pada Al-Qur’an dan As-Sunah. (Baca 44 Indikator Kemunduran HMI,Prof.Dr.Agussalim Sitompul).


Kondisi Islam di Dunia

Kondisi umat Islam dunia pada saat menjelang kelahiran HMI dapat dikatakan ketinggalan dibandingkan masyarakat Eropa dengan Reinasance-nya. Ini dapat dilihat dari penguasaan teknologi maupun pengetahuan, bahkan sebagian besar umat Islam berada di bawah ketiak penindasan nekolim barat yang notabene dimotori oleh kelompok Kristen. Umat Islam hanya terpaku, terlena oleh kejayaan masa lampau atau pada zaman keemasan Islam. Umat Islam pada umumnya tidak memahami ajaran Islam secara komprehensif, sehingga mereka hanya berkutat seputar ubudiyah atau ritual semata tanpa memahami bahwa ajaran Islam adalah ajaran paripurna yang tidak hanya mengajarkan hubungan manusia dengan Tuhan, namun lebih jauh daripada itu menderivasikan hubungan transenden ke dalam seluruh aspek kehidupan. Berangkat dari pemahaman ajaran Islam yang kurang, umat berada dalam keterbelakangan dan fenomena ini terjadi dapat dikatakan di seluruh dunia. Hal tersebut mengakibatkan terpuruknya umat Islam yang dijanjikan Allah untuk dipusakai alam semesta. Lebih ironis lagi ketika umat terbagi menjadi berbagai golongan yang hanya berangkat dari masalah khilafiyah, yang berdampak pada melemahnya kekuatan Islam.

Kondisi Islam di Indonesia

Tidak jauh berbeda dengan apa yang terjadi di dunia saat itu, umat Islam berada dalam cengkaraman nekolim barat. Penjajah memperlakukan umat Islam sebagai masyarakat kelas bawah dan diperlakukan tidak adil, serta hanya menguntungkan kelompok mereka sendiri atau rakyat yang se ideologi dengan mereka. Umat Islam Indonesia hanya mementingkan kehidupan akhirat (katanya sich), dengan penonjolan simbolisasi Islam dalam ubudiyah, sebagai upaya kompensasi atas ketidakberdayaan untuk melawan nekolim, sehingga pemahaman umat tidak secara benar dan kaffah. Bahkan ada sebagian ulama yang menyatakan bahwa pintu ijtihad telah ditutup, hal ini menyebabkan umat hidup dalam suasana taqlid dan jumud. Selain itu umat Islam Indonesia berada dalam perpecahan berbagai macam aliran/ firqah dan masing-masing golongan melakukan truth claim, hal ini menyebabkan umat Islam Indonesia tidak kuat akibat kurang persatuan di kalangan umat Islam di Indonesia.

Dari histories yang ada bahwa keadaan dan kondisi bangsa Indonesia sebelum berbentuk NKRI, ialah sebuah bangsa dengan berbentuk kerajaan-kerajaan yang tidak lain bercorak Hindu-Budha. Sebelum Islam datang sebagaimana dibawa oleh para pendatang dari Timur Tengah, bahwa kondisi dimana setiap kerajaan masing-masing saling berdiri sendiri. Akan tetapi pada masa kejayaan Kerajaan Majapahit, seorang pandawa kerajaan tersebut yaitu Gajah Mada dapat mempersatukan seluruh kepulauan nusantara yang dikenal dengan “sumpah palapa”.

Kondisi Perguruan Tinggi dan Mahasiswa Islam

Perguruan tinggi adalah tempat untuk menuntut ilmu yang akan menghasilkan para pemimpin untuk masa sekarang dan masa yang akan datang. Selain itu perguruan tinggi adalah motor penggerak perubahan, dan perubahan tersebut diharapkan menuju sesuatu yang lebih baik. Begitu pentingnya perguruan tinggi, maka banyak golongan yang ingin menguasainya demi untuk kepentingan golongan tersebut. Sejalan dengan perguruan tinggi dan dunia kemahasiswaan yang strategis tersebut, ada beberapa faktor dominan yang menguasai dan mewarnai perguruan tinggi dan dunia kemahasiswaan, antara lain sistem yang diterapkan khususnya di perguruan tinggi adalah sistem pendidikan barat yang mengarah pada sekularisme dan dapat menyebabkan dangkalnya agama atau aqidah dalam kehidupan. Selain itu adanya organisasi kemahasiswaan yang berhaluan komunis dan ini menyebabkan aspirasi Islam dan umat Islam kurang terakomodir.

Faktor-faktor di atas adalah ancaman yang serius, karena menyebabkan masalah dalam hidup dan kehidupan serta keberadaan Islam dan umat Islam. Mahasiswa Islam kurang memiliki ruang gerak karena berada dalam sistem yang sekuler dan tidak sesuai dengan ajaran Islam, dan harus menghadapi tantangan dari mahasiswa komunis yang sangat bertentangan dengan fitrah manusia dan bertentangan pula dengan ajaran Islam. Jelas sudah bahwa mahasiswa Islam sangat sulit untuk bergerak memperjuangkan aspirasi umat Islam.

Saat Berdirinya Himpunan Mahasiswa Islam

HMI lahir pada saat umat Islam Indonesia berada dalam kondisi yang memprihatinkan, yaitu terjadinya kesenjangan dan kejumudan pengetahuan, pemahaman, penghayatan ajaran Islam sehingga tidak tercermin dalam kehidupan nyata. Pada saat HMI berdiri, sudah ada organisasi kemahasiswaan, yaitu Perserikatan Mahasiswa Yogyakarta (PMY), namun PMY didominasi oleh partai sosialis yang berpaham komunis. Akibat didominasi oleh partai sosialis komunis maka PMY tidak independen untuk memperjuangkan aspirasi mahasiswa, maka banyak mahasiswa yang tidak sepakat dan tidak bisa membiarkan mahasiswa terlibat dalam polarisasi politik. Sebagai realisasi dari keinginan tersebut maka di Yogyakarta pada tanggal 14 Rabiul Awal 1366 H, bertepatan dengan tanggal 5 Pebruari 1947 sebuah organisasi kemahasiswaan, yaitu Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sebagai organisasi independen dan sebagai anak umat dan anak bangsa.

Selain itu juga terdapat organisasi Serikat Mahasiswa Malang (SMM) yang kurang lebih berhaluan social. Perserikatan ini juga senantiasa hanya sebagai underbown dari PKI.

1 komentar:

Anonim mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
 
"Jadikan Waktu Kita Untuk Berkarya dan Bermanfaat..Green Black Community"

Baksos

Baksos
Penyerahan Baju layak pakai Oleh pengurus Korban Kebakaran Belibis Oktober 2009

Life Manajemen Training

Life Manajemen Training
LMT...Bersama BNK Kota Samarinda 27- 29 Oktober 2009

Memories 2007

Pengurus 2008

Pengurus 2008